Mengatasi Trauma Baca Tulis

Dafi duduk di kelas 1 sekolah dasar, tapi dia belum juga bisa membaca. Padahal ia terkenal sebagai anak yang sangat aktif dan banyak teman. Tangannya juga kreatif membuat mainan, mulai dari senapan berbahan pelepah pisang sampai dengan robot-robotan yang dibuat dari stik es krim. Lantas kenapa ia belum juga bisa membaca. Apakah Dafi bodoh?

Oh tentu saja tidak! Semua anak cerdas di bidang masing-masing. Ada yang lebih menonjol pada kecerdasan angka dan verbal (si akademis), ada yang lebih kuat kecerdasan interpersonal dan intrapersonalnya (si murah senyum banyak teman), ada yang cerdas kinestetik (si otot kawat tulang besi), ada pula yang lebih kuat kecerdasan naturalis dan musiknya.

Besar kemungkinan, Dafi belum bisa membaca karena metode baca tulis di sekolah kurang sesuai dengan cara belajar yang diminatinya; tidak sesuai dengan potensi kecerdasan yang dimilikinya. Akibatnya membuat Dafi ogah bahkan trauma dengan bahasa.

Jika anak Anda mengalami hal yang sama seperti yang dialami Dafi, maka anak Anda harus dibantu membaca dan menulis saat di rumah dengan metode yang sesuai harapan dan potensi kecerdasannya; cara belajar yang membuat ia asyik dan tidak terbebani.

Paling kurang ada enam cara yang bisa kita lakukan. Pertama, siapkan kertas asturo atau origami. Potong-potong, lantas tulis kata-kata yang diakrabi anak sehari-hari. Misal, ayah, mama, bakso, sate. Beritahukan cara membacanya sampai ia hapal. Berikutnya berikan kertas kosong untuk menulis kata-kata yang telah dihapalnya tadi.

Kedua, anak kita minta untuk menulis benda-benda di dekatnya. Misal lagi tiduran di kasur, ditanya ini apa Kak? Bantal. Coba deh, tulis bantal. Mungkin anak menulisnya batal. Jika itu terjadi, kita tinggal bilang: “Nah, ini tinggal tambahin huruf n di tengahnya.” Jadi mengenal dan menulis dan mengeja kata dapat dimulai dari sesuatu yang dekat dengan si anak dan sering terlihat.

Ketiga, bacakan buku cerita kesukaannya. Sebutkan kata tertentu (mulai dari yang mudah), kemudian minta anak untuk menyebut huruf-huruf yang membentuk kata tersebut. Misal anak suka buku cerita tentang lumba-lumba. Setelah membacakannya, kita minta si anak menyebutkan huruf-huruf yang membentuk kata lumba-lumba. Setelah bisa, beralihlah ke kata lain, misal laut terus nelayan, dan seterusnya.

Keempat, ajak anak mengisi TTS atau teka-teki silang. Bacakan soalnya, minta ia menjawab lalu menuliskannya. Permainan kata mendatar dan menurun bisa memancing gairah atau rasa ketertarikan anak belajar membaca dan menulis. Apalagi sekarang sudah ada TTS khusus untuk anak-anak.

“TTS adalah salah satu cara paling ideal untuk belajar sambil bermain,” kata Dewi Lestari, penulis novel Supernova. “TTS juga menjadi alternatif sehat untuk mengisi waktu non-gawai bagi anak-anak. Menuntaskan satu demi satu TTS menjadi pencapaian mengasyikkan bagi anak-anak,” kata Dewi lagi.

Kelima, membacakan berulang-ulang buku kesukaannya, mulai dari saat ia sedang mandi, pakai baju, sedang makan, menjelang tidur, sampai ketika bangun tidur. Dengan begitu sedikit demi sedikit anak hapal alur cerita dan dengan senang hati membacanya sendiri.

Keenam, semangati anak dengan acungan jempol, senyum lebar dan kata-kata positif seperti hebat, pintar dan lain sebagainya ketika ia berhasil membaca dan menulis. (Agus M. Irkham, pegiat literasi)

About

View all posts by

Tinggalkan Balasan